Jumat, 19 Oktober 2012

Tumbuhan Penangkap Serangga


Venus dan Sundew: Tumbuhan Penangkap Serangga



Salah satu tumbuhan pemangsa serangga adalah Venus.
Tumbuhan ini memiliki sistem perangkap untuk menjebak,
menangkap dan memakan serangga yang hinggap padanya.
Tumbuhan ini menarik perhatian serangga dengan warna
merah daunnya yang menawan.Serangga akan tergoda oleh
 aroma sedap yang dihasilkan kelenjar-kelenjar di
sekeliling dedaunan tumbuhan Venus. 

 

Ia lantas terbang mendekat dan kemudian hinggap di atas
tumbuhan tanpa rasa curiga sedikitpun akan bahaya yang
 mengintainya. Di saat bergerak ke sumber "makanan",
ia menyentuh rambut-rambut yang seolah tampak
tidak berbahaya pada permukaan tumbuhan tersebut.
Ketika merasakan sentuhan serangga yang menghampirinya,
 tumbuhan ini dengan segera bergerak melipat dan menutup
 rapat daun-daunnya. 

 

 

Gerakan ini membuat serangga terperangkap dan terjepit
di antara daun-daun tersebut. Daun-daun ini mengapit
semakin lama semakin erat akibat kepakan sayap serangga
yang menyentuh rambut secara berulang-ulang. Tumbuhan
ini kemudian mengeluarkan cairan "penghancur dan pelarut
daging" pada tubuh serangga. Dalam waktu singkat,
ia melumatkan mangsanya hingga menjadi seperti
bubur dan kemudian memakan hidangan yang lezat ini.
Tumbuhan Venus memiliki kemampuan menutup
daun-daunnya dengan kecepatan yang sangat tinggi.
Lebih cepat dibandingkan dengan gerakan tercepat
menutupnya jari-jemari tangan manusia. 

 

Buktinya, seringkali manusia tak mampu menangkap
seekor lalat yang hinggap pada telapak tangannya,
tapi tumbuhan Venus melakukannya dengan mudah.
Yang menarik untuk diketahui adalah bagaimana
tumbuhan yang tidak memiliki otot atau kerangka ini
mampu melakukan gerakan yang sangat cepat tersebut?
Terdapat sistem elektrik yang sangat rumit pada tumbuhan
Venus. Rangsangan yang diakibatkan oleh sentuhan
tubuh serangga pada rambut-rambut Venus diteruskan
ke reseptor (sistem penerima rangsangan) di bawah
rambut-rambut tumbuhan tersebut. 

 

Reseptor lalu meneruskan rangsangan ini dalam
bentuk signal-signal listrik ke sel-sel motorik yang
menyebabkan daun-daun Venus melakukan gerakan
cepat dan mendadak. Terakhir, mekanisme tersebut
diaktifkan terus-menerus untuk menahan serangga agar
tidak lepas. Apa yang terjadi di tingkat sel motorik?
Segera setelah sel-sel motorik ini menerima
rangsangan listrik, mereka merubah konsentrasi air
dalam tubuh mereka. Sel-sel di bagian dalam alat perangkap
mengeluarkan air dari tubuhnya dan kemudian menyusut.
Fenomena ini mirip balon yang mengempis dan
mengeluarkan udara. Sebaliknya, sel-sel di bagian
luar alat perangkap menyerap kelebihan air dan mengembang.
Proses ini terjadi secara cepat sehingga tumbuhan tersebut
menutup daun-daunnya dengan kecepatan sangat tinggi. 

Di samping itu, kelenjar pencernaan pada alat perangkap
juga turut diaktifkan. Akibat rangsangan, kelenjar ini
mulai mengeluarkan cairan untuk melumatkan dan melarutkan
tubuh serangga secara perlahan-lahan. Meskipun sangat
ampuh untuk melarutkan protein, cairan kimia ini tidak
membahayakan daun-daun tumbuhan Venus itu sendiri.
Dengan cara ini, tumbuhan Venus menyantap bubur
mangsanya yang telah berubah menjadi semangkok sup
kaya protein. Seusai menyantap makanan, mekanisme
yang sebelumnya menggerakkan alat perangkap Venus
supaya menutup, kini bekerja sebaliknya untuk
membukanya. Untuk mengaktifkan perangkap, rambut-rambut
Venus harus disentuh dua kali berturut-turut. Dengan
mekanisme aksi ganda ini, tumbuhan Venus tidak pernah
menutup dengan sia-sia tanpa tujuan yang jelas. Misalnya,
perangkap tidak akan menjadi aktif dan menutup ketika
setetes air hujan jatuh mengenainya. Di sini, yang sangat
penting untuk diketahui adalah bahwa Venus, si pemburu
yang ahli ini, tidak memiliki otak atau organ tubuh semisalnya,
sehingga ia tidak mampu berpikir. Sungguh, Venus
tidak menyadari kemampuannya yang luar biasa, yang
menjadikannya mampu berburu serangga yang dapat
terbang dengan cepat. Semua ini memperlihatkan adanya
sistem perangkap, penangkapan dan penghancuran tubuh
serangga dengan ketepatan yang sangat akurat, teknik dan
desain sempurna pada bagian-bagiannya yang terkecil sekalipun.

Tumbuhan sundew asal Afrika Selatan tumbuh di tanah
yang tandus. Sundew bahkan dapat hidup di areal
semi-gurun pasir. Ia diciptakan dengan kemampuan
berburu yang sangat menarik, yang memungkinkan tumbuhan ini
mendapatkan sari makanan yang tidak mungkin didapatnya dari
tanah dengan cara lain. Daun-daun tumbuhan Sundew berbentuk
seperti batang pipih yang memanjang dan dipenuhi rambut merah
panjang. Ujung rambut-rambutnya dilapisi oleh cairan yang
sangat kental dengan bau khas yang menarik perhatian serangga
Seekor serangga yang pergi menuju sumber bau tersebut dan
kemudian hinggap pada tumbuhan Sundew, akan menempel
lengket pada rambutnya dan berusaha melepaskan diri dari
salah satu perekat paling kuat di dunia ini. 

Di saat serangga berjuang untuk melepaskan diri, daun
panjang Sundew bergerak melipat ke bawah untuk menggenggam
serangga lebih erat. Segera setelah tumbuhan menjepit mangsanya,
ia mencerna serangga perlahan-lahan dan memperoleh protein
esensial bagi tubuhnya. Setelah mencerna seluruh bagian serangga
yang dapat dimakan, tumbuhan sundew membuka dan memasang
perangkapnya lagi. Sungguh menarik bahwa perekat kuat tersebut
mampu menahan serangga agar tidak lepas. Dan pada saat yang sama,
perekat ini sama sekali tidak menjadikan rambut-rambut
tersebut saling menempel sedemikian erat hingga menghambat
gerakan tumbuhan Sundew. 









Tidak ada komentar: